Jumat, 10 Mei 2013

Lazio Unsung Hero

Siapakah pahlawan Lazio yang sesungguhnya? Jika pertanyaan ini diberikan kepada fans Lazio di pertengahan tahun 90an pasti jawabannya adalah Beppe Signori. Fans di era akhir 90an dan awal millenium baru akan menjawab Allesandro Nesta, Pavel Nedved, Sinisa Mihaljovic, Hernan Crespo atau Juan Sebastian Veron sebagai pahlawan mereka. Bagaimana dengan era sekarang? tepatnya 2013. Apakah Miroslav Klose? atau Anderson Hernanes? Setiap orang pasti punya pahlawannya masing-masing. Dari semua nama yang disebutkan diatas memang layak dianggap sebagai pahlawan bagi Lazio. Di eranya masing-masing tentu saja. Nama-nama yang sangat tidak asing buat pecinta sepakbola eropa dan pecinta Lazio khususnya. Namun, ada beberapa pemain yang layak dianggap sebagai pahlawan namun jarang muncul ke permukaan atau jarang di-expose oleh media. Siapakah mereka?

Di awal tahun 2000an era presiden Sergio Cragnoti, Lazio mengalami krisis finansial yang menyebabkan klub ini bangkrut. Salah satu penyebabnya adalah pembelian pemain gila-gilaan yang beberapa memecahkan rekor transfer dunia saat itu. Dari Cristian Vieri hingga Gaizka Mendieta. Alhasil, lambat laun pemain-pemain top mereka hijrah ke klub lain. Sampai pangeran, ikon sekaligus kapten mereka yang dicintai fans, yaitu Allesandro Nesta dengan berat hati harus meninggalkan klub yang dicintainya untuk membantu keuangan klub dengan hijrah ke AC Milan. Lazio sendiri kemudian diakusisi oleh Claudio Lotito yang sampai sekarang menjabat sebagai presiden klub. Dengan dana yang terbatas di era yang baru, Lazio tidak bisa dengan mudah membeli pemain top dunia seperti era Cragnoti dulu. Satu persatu bintang yang dimiliki Lazio hijrah ke klub lain. Namun, Lazio tetap berhasil menjaga superioritas mereka di kawasan Italia dengan skuad yang tidak terlalu mentereng, dengan 2 kali menjadi juara Coppa Italia atau berada di posisi papan atas klasemen untuk jaminan berlaga kompetisi eropa.





Ada beberapa pemain yang datang di era krisis dan prestasi Lazio yang kian menurun. Stefano Mauri yang datang dari Udinese dan Cristian Ledesma yang dibeli dari Lecce setahun kemudian. Nama keduanya mungkin tidak setenar Paolo Di Canio, Angelo Peruzzi atau Goran Pandev waktu itu. Saat kedatangan beberapa bintang baru seperti Mauro Zarate, Anderson Hernanes hingga sekarang Miroslav Klose, nama Mauri & Ledesma pun mungkin masih asing di telinga pecinta sepakbola eropa. Namun, kontribusi keduanya sangat besar bagi Lazio di masa keterpurukan hingga sekarang. Bersama Tommaso Rocchi (yang pindah ke Inter di jendela transfer musim dingin 2013), mereka menjadi tokoh sentral yang membawa Lazio tetap menjadi tim yang disegani dan kompetitif di Italia. Tidak terlalu diperbicangkan tapi di lapangan keduanya menjadi sosok penting di posisinya masing-masing. Sekarang mereka dipercaya memimpin rekan-rekannya dengan menjadi kapten. Setelah kepergian Rocchi, Mauri diangkat menjadi kapten tim dan Ledesma menjadi wakilnya.

Stefano Mauri. Gelandang yang mempunyai tinggi 186 cm ini termasuk utilty player yang bisa bermain di beberapa posisi. Di tahun-tahun awal membela Lazio, Mauri ditempatkan di sayap kiri. Dia bukan tipe inverted winger yang mengandalkan kecepatan layaknya Aaron Lennon atau Theo Walcott, namun tipikal classic winger dengan drible yang mumpuni. Mempunyai kemampuan menjaga bola dengan baik dan seorang pengumpan ulung. Seiring berjalannya waktu Mauri juga sering digeser ke kanan untuk menempati posisi sayap kanan. Posisi yang membuat dia bisa merangsek lebih kedalam ke pertahanan lawan karena Mauri adalah seorang kidal. Di tahun-tahun selanjutnya Mauri mendapatkan kepercayaan menjadi seorang Trequartista. Posisi sentral khas Italia yang berada tepat di belakang penyerang. Di posisi ini Mauri jadi lebih leluasa untuk menciptakan peluang, assist dan gol. Gol dari Mauri banyak tercipta ketika dia menjadi seorang Trequartista. Seiring kedatangan Anderson Hernanes dari Sao Paolo di 2010, Mauri kembali lagi ke posisi aslinya di sayap kiri. Bersama Hernanes yang sangat dominan saat itu, Mauri membawa Lazio berada di peringkat 5 klasemen akhir Serie A musim 2010/2011 (satu strip di bawah Udinese, yang berhak bermain di Liga Champions). Di tahun 2012 Mauri dipanggil ke timnas Italia (sejak terakhir kali memperkuat Gli Azzuri pada tahun 2004 saat masih membela Udinese) untuk melakoni beberapa pertandingan uji coba dan kualifikasi Piala Eropa 2012. Namun, Mauri tidak ada di daftar skuad Italia untuk Piala Eropa 2012, kalah bersaing dengan Allesandro Diamanti atau Ricardo Montolivo. Di tahun tersebut Mauri membawa Lazio ke peringkat yang lebih baik dari tahun sebeleumnya di klasemen akhir serie A, yaitu peringkat 4. Namun sayang, lagi-lagi Lazio gagal ke Liga Champions karena tiket terakhir jatuh ke tangan Udinese yang berada di peringkat ke 3 (di musim 2012/2013 jatah Italia di Liga Champions dikurangi menjadi 3 klub saja).
Mauri, seorang gelandang elegan dengan skill menawan. Pemain yang konsisten sejak kedatangannya pertama kali ke Lazio yang sedang terpuruk ditinggal pemain-pemain bintangnya. Mungkin dia tak semenonjol Hernanes atau Klose. Tapi, di lapangan Mauri dapat merubah jalannya pertandingan dan merubah hasil pertandingan.

Cristian Ledesma. Bernama lengkap Cristian Daniel Ledesma, kelahiran Argentina yang kemudian berpindah kewarganegaraan menjadi Italia yang biasa disebut Oriundi. Dibeli dari Lecce di 2006, Ledesma langsung menjadi elemen penting di Lazio. Menempati posisi yang biasa disebut Pirlo Role atau Deep Lying Playmaker. Spesialisasinya adalah long ball dan through ball khas seorang Deep Lying Playmaker. Selain itu tendangan keras nan akurat juga jadi senjata Ledesma untuk memecah kebuntuan. Salah satu gol yang paling diingat dari Ledesma tentu saja gol ke gawang Ivan Pelizoli di Derby Capitale 2007. Tembakan melengkung dari luar kotak penalti dengan menggunakan kaki kiri yang notabene bukan kaki terkuatnya, berhasil mengoyak jala AS Roma. Sejak kedatanganya, Lazio menemukan sosok yang pas untuk mengisi posisi pengatur permainan. Tentu saja, posisi yang dimainkan Ledesma adalah posisi yang khas dan identik dengan Pirlo. Namun, Ledesma mempunyai sedikit nilai plus, karena dia juga seorang gelandang petarung yang tak hanya mengatur permainan dan menentukan aliran bola di lapangan, namun juga bisa menjadi tembok pertama yang harus dihadapai ketika lawan menyerang. Elegan dalam mengatur permainan, agresif dalam bertahan. Bisa dibilang, perpaduan antara Pirlo dan Gattuso (in the different ways). Tahun 2012 menjadi tahun spesial bagi Ledesma, untuk pertama kalinya dia dipanggil untuk memperkuat timnas Italia di laga ujicoba. Seperti yang disebutkan di awal, Ledesma adalah seorang Oriundi (kelahiran Argentina yang berpindah kewarganegaraan menjadi Italia). Sebagai debutan timnas di laga ujicoba melawan Romania, Ledesma dipercaya bermain sebagai starter. Sayangnya, itu adalah satu-satunya caps yang dimiliki Ledesma di timnas hingga sekarang. Tak mengherankan memang, karena di posisi yang sama banyak pemain-pemain berkualitas seperti Ricardo Montolivo, Antonio Nocerino dan tentu saja Andrea Pirlo. Dari tahun ke tahun permainan Ledesma semakin berkembang dan konsisten. Tak salah jika dia sering dipercaya sebagai kapten tim meskipun waktu itu masih relatif muda. Elemen terpenting Lazio dalam beberapa tahun terakhir, yang mampu membawa Lazio berada di 5 besar di dua musim terakhir Serie A.

Mauri dan Ledesma. Namanya tak setenar Signori, Nesta, Veron, Simeone, Hernanes, Klose atau pahlawan-pahlawan Lazio lainnya. Namun, mereka adalah sosok dibalik kesuksesan Biancocelseste dalam menjaga status sebagai klub yang disegani di Italia dan Eropa.

Ave Mauri..!!! Vola Ledesma..!!!

Rabu, 10 April 2013

Nestapa Sang Pembunuh Raksasa

Beberapa tahun lalu Persibo Bojonegoro secara heroik menjadi kampiun divisi utama lewat perjalanan penuh liku dan hambatan. Kata orang saat itu "juara yang tak diharapkan". Bagaimana tidak? Persibo saat itu tidak dijagokan dan banyak yang mengatakan jika Persibo bukan tim yang "disiapkan" untuk naik kasta oleh PSSI era itu. Terbukti memang, sejak 8 besar Persibo dikerjai habis-habisan namun berhasil lolos dari lubang jarum dan melaju hingga semifinal sebelum akhirnya menjadi juara. Banyak dukungan dan pujian datang setelah peristiwa yang tak akan pernah dilupakan oleh Boromania saat itu. Tak salah jika Persibo dijuluki sebagai "The Giant Killer".

3 tahun kemudian semua berubah. Persibo menjadi pesakitan. Cibiran, cercaan, hinaan datang silih bergati tak hanya dari insan sepakbola lokal tapi juga dunia. Penyebabnya tak lain & tidak bukan adalah kekalahan memalukan 8 - 0 saat bertanding di ajang AFC Cup melawan klub Hongkong Sunray Cave. Di laga tersebut wasit harus menghentikan pertandingan karena Persibo hanya menyisakan 6 pemain di lapangan. Penyebabnya adalah adalah pemain yang tak dapat melanjutkan pertandingan karena cedera dan kelelahan. Pelatih & Pemain Sunray Cave merasa terhina dengan kejadian tersebut. Di beberapa media dia mengatakan merasa terhina dengan kemenangan tersebut dan menuduh Persibo tidak punya semangat sportivitas. Kekalahan memalukan itu juga menjadi santapan media nasional bahkan internasional. Sungguh menyedihkan.

Sebelum pertandingan tersebut sebenarnya Persibo juga mengalami kekalahan telak di ajang AFC Cup 0 - 7 di Manahan Solo saat bertindak sebagai tuan rumah saat menjamu New Radiant klub Maladewa. Dan seminggu kemudian hampir menang saat menjamu Sunray Cave di tempat yang sama sebelum tendangan bebas pemain Sunray Cave di menit akhir memaksa hasil imbang 3 - 3. Setelah itu giliran Persibo harus melawat ke Hongkong untuk melawan Sunray Cave. Skuad yang dibawa ke Hongkong pun tidak ideal, karena hanya membawa 12 pemain (dan hanya membawa 1 penjaga gawang). Keberangkatan tim juga tak kalah amburadulnya. Skuad Persibo baru tiba di hari yang sama saat pertandingan akan dilaksanakan. Pagi tiba di bandara, malamnya langsung ke stadion untuk bertanding. Tanpa uji coba lapangan, tanpa istirahat yang cukup dan bisa dibilang tanpa persiapan yang memadai.

Lazimnya tim sepakbola di Indonesia, Persibo juga tak lepas dari yang namanya kesulitan dana. Bahkan pemain yang bermain untuk Persibo di ajang AFC Cup & IPL belum mempunyai ikatan kontrak dengan Persibo. Mereka hanya di beri uang saku seadanya. Bayangkan, pemain yang tiap hari berlatih dan bertanding belum mempunyai nasib yang jelas karena tak ada kontrak. Bahkan, beberapa jam sebelum pertandingan melawan New Radiant di AFC Cup pemain akan melakukan mogok tanding sebelum manajemen memberi kepastian, yang pada akhirnya mogok tersebut tidak jadi dilaksanakan karena manajemen berjanji akan memberi kepastian setelah pertandingan tersebut. Penandatangan kontrak pun baru dilakukan beberapa hari sebelum keberangkatan ke Hongkong. Itupun tidak semua pemain mau menandatangi kontrak, hanya pemain lokal asli Bojonegoro saja. Persibo pun berangkat ke Hongkong dengan seribu satu masalah.

Menyedihkan, sebagai warga Bojonegoro dan pecinta Persibo saya merasa miris, malu, sedih dengan kejadian di Hongkong tersebut. Peribahasa mengatakan makin tinggi pohon makin kencang angin yang menerpa. Namun saya, kami, dan semua pecinta Persibo tak menyangka & mengira angin yang menerpa akan sekencang ini. Tim yang dulu dipuji dan dielu-elukan kini dihina & dicerca habis-habisan. Sebagai bagian yang tak mungkin terpisahkan dengan Persibo kami takkan pernah meninggalkan tim ini di belakang. Kondisi ini membuat kami akan terus mengawasi dan mengawal tim ini untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Persibo adalah cerminan, cerminan dari kondisi sepakbola Indonesia saat ini. Dan lagi dan lagi, Persibo harus menjadi tumbal dari masalah pelik persepakbolaan di Indonesia yang tak berkesudahan. Semoga ini menjadi peristiwa terburuk terakhir yang pernah kita alami dan lalui. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang pecinta sebuah klub sepakbola yang kadang mengumpati wasit dari atas tribun stadion. Tapi, atas nama Persibo Bojonegoro, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat pecinta sepakbola Indonesia.

Apa yang tak bisa membunuh kami, akan menjadikan kami lebih kuat.

Rabu, 03 Oktober 2012

Ketika Idol Grup Menjadi Tim Sepakbola

24 gadis belia berseragam warna warni menyanyi dan menari dengan lincah di atas panggung. Para penggemarnya menikmati penampilan mereka dengan gaya yang tak kalah heboh nya. "Menyanyi.. Menari.. Sebebasnya" salah satu bait dari lagu yang dinyanyikan mereka dengan energi yang luar biasa. Siapa mereka? Paduan suara sekolah? Bukan. Atau Girlband baru yang numpang populer seperti girlband-girlband yang lain? Bukan. Mereka lebih suka disebut Idol grup. Dan memang begitulah adanya, mereka adalah idol grup. Mereka adalah JKT48!

JKT48, sebuah fenomena baru di industri musik Indonesia. Mudah dikenali karena mencolok dengan 24 anggota yang kadang tampil bersamaan dalam satu panggung. Lebih mirip tim sepakbola daripada idol grup, girlband atau apalah namanya itu. JKT48 dan Sepakbola itu bak dua sisi mata uang, bertolak belakang namun masih saling berkaitan. Ada beberapa hal yang mendukung teori itu. Pertama, jumlah anggota yang mencapai 24 orang. Jumlah yang kurang lebih sama dengan batas maksimal daftar pemain di sebuah klub sepakbola untuk mengarungi satu musim kompetisi liga atau turnamen. Kedua, asal muasal anggota. Anggota JKT48 diseleksi dari puluhan ribu pelamar yang kemudian diseleksi dan diambil yang terbaik. Yang terbaik itulah yang dilatih dan digembleng agar siap mengarungi persaingan dunia hiburan. Tak beda jauh dengan sistem perekrutan akademi sepakbola klub eropa. Ribuan pemuda belia mencoba peruntungan dengan mendaftar di akademi klub eropa (banyak juga yang ditawari langsung untuk bergabung) untuk dapat masuk menjadi bagian dari klub tersebut (dilatih dan digembleng oleh para pelatih profesional). Jika giat dan mendapat sedikit keberuntungan, mereka akan menjadi pemain hebat nantinya. Cerita selanjutnya kita sudah mengetahuinya dalam deretan nama Lionel Messi, Cesc Fabregas, David Beckham, Ryan Giggs dan ratusan pemain lain. Ketiga, mempunyai fans fanatik yang selalu setia mendukung mereka. Bahkan mereka punya chant mereka sendiri setiap JKT48 tampil. Kadang bahkan lebih heboh dan militan dari fans klub sepakbola yang sebenarnya.
   
Ya, JKT48 dan Sepakbola nampak begitu akrab. Berbeda namun masih terdapat benang merah. Dan, bagaimana jika kita membahas hubungan ini lebih lanjut. Mari kita ibaratkan JKT48 adalah sebuah klub sepakbola dan anggotanya adalah pemain. Kita akan mencoba mendefinisikan peran para anggota JKT48 dalam tim sekaligus posisi idealnya. Kita hanya akan mencari starting eleven atau skuad inti JKT48 yang terdiri dari 11 orang. Penilaian dilakukan dengan se-objektif mungkin. Berturut-turut mulai memilih dari kiper hingga striker. Disini kita akan menggunakan formasi 4-2-3-1, formasi yang sekarang populer di kalangan klub sepakbola dan sangat cocok untuk JKT48. JKT48 sendiri mempunyai 24 member, kita akan memilih siapa yang tepat untuk berada di starting eleven. Ok, mari kita mulai..

[GOAL KEEPER]. STELLA CORNELLIA. The Gold Voice. Salah satu member yg memasuki usia matang, memiliki jiwa kharisma dan didukung dengan kelebihan suara emas nya. Di JKT48, Stella adalah seorang panutan sekaligus mentor bagi member lain. Dengan sifat dewasa nya satu tempat di bawah mistar cocok untuk diisi oleh pemilik suara emas ini. Dia akan mampu mengkomando pertahanan tim dari bawah mistar.


[CENTER BACK]. JESSICA VERANDA. Stylish, Dingin, Disiplin. 3 kata yang tepat untuk menggambarkan member yang satu ini. Walaupun Ve cenderung pasif (pendiam), dia dapat menghadapi semua nya dengan penuh ketenangan. Ditunjang dengan postur ideal sekaligus memasuki usia matang, satu tempat di lini pertahanan sudah selayaknya diberikan kepadanya. Ketenangannya akan sangat membantu tim ini untuk selalu tenang dan sabar dalam menghalau serangan dari musuh.

[CENTER BACK]. DEVI KINAL PUTRI. Atraktif. Sudah selayaknya jika satu tempat lain di center back diisi oleh Kinal. Duetnya dengan Ve akan menjadikan duet ideal di center back tim ini. Selain karena keduanya dekat di luar lapangan, kombinasi duet ini akan menciptakan pertahanan kokoh di lini pertahanan. Kelincahan dan kecerdasannya membuat dia bisa dengan pintar membaca permainan lawan. Aktif dan pekerja keras, mempunyai postur tak kalah ideal dan menuju usia emas. Jaminan kokoh lini belakang JKT48. Duet aktif-pasif atau lincah-kuat.

[RIGHT BACK]. CINDY GULLA. Mungil, Lincah, Gesit. Itulah hal yang pertama bisa kita lihat dari Cigul (sapaan akrabnya). Bek kanan sangat pas diisi oleh sosok baby face yang murah senyum ini. Kegesitan nya akan membantu tim dalam menyerang dan bertahan. Jangan tertipu dengan baby face nya, akselerasi dari sisi kanan akan siap mengobrak-abrik pertahanan lawan.

[LEFT BACK]. BEBY CHAESARA ANADILA. Smart, Ulet, Kreatif. Dia adalah pemain tipe serba bisa. Bisa mengisi posisi bek kanan/kiri atau berada di pos gelandang. Kemampuan nya yang cepat menyerap ilmu dan beradaptasi sungguh luar biasa. Di usia yang masih muda dia sudah bisa mencapai level ini. Banyak belajar dari senior adalah salah satu kunci nya. Posisi bek kiri sangat pas dengan segala kemampuan yang dimiliki nya.

[DEFENSIVE MIDFIELDER]. GHAIDA FARISYA. Strong! Tak ada kata lain lagi untuk menggambarkan member ini. Jika dulu Chelsea dan Real Madrid punya gelandang pengangkut air dalam diri Claude Makalele, maka JKT48 punya Ghaida. Dengan melihat sekilas saja kita sudah mengetahui kalau dia adalah pekerja keras. Dengan gaya tomboy dan cuek posisi gelandang bertahan sangat amat pas diisi olehnya. Dengan tubuh yang kekar ditambah gaya rambut sangar, daya juang dan stamina luar biasa lawan-lawan pasti akan gentar. Dia menjadi orang pertama yang bertugas memutus serangan lawan. Gelandang pengangkut air dengan daya tahan luar biasa.

[CENTRAL MIDFIELDER]. JESSICA VANIA. Serba bisa. Mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki member lain. Di JKT48,Jeje (sapaan akrabnya) mempunyai kemampuan memainkan banyak alat musik, sesuatu yang tidak dimiliki member lain Maka dari itu, peran box-to-box midfielder sangat pas dimainkan member satu ini. Kreator dari belakang layar yang aktif membantu serangan dan disiplin ketika diserang. Sayangnya, kadang Jeje terlihat tak bisa mengendalikan emosinya dan meledak-ledak. Overall, kemampuan nya bisa digunakan untuk meng-cover semua tempat di lini tengah.

[LEFT WINGER]. SHANIA JUNIANATHA. Determinasi Tinggi. Meskipun masih muda, dia mempunyai kemampuan untuk berada di garis depan penyerangan. Usia muda tapi memiliki visi seorang dewasa. Dia tahu harus berbuat apa di lapangan meskipun tanpa komando atau arahan dari member lain. Memiliki intelejensi tinggi dan kepercayaan diri yang mampu merubah ritme permainan. Shania siap mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan lawan.

[RIGHT WINGER]. CLEOPATRA. Confidence! Tipe winger classic dengan umpan dan eksekusi akurat meskipun tidak terlalu cepat. Dengan kepercayaan diri tinggi dia bisa membuat lawan di depan nya gentar. Meskipun tidak terlalu cepat tapi dia aktif bergerak mengcover wilayahnya dengan baik. Tapi kadang kepercayaan diri nya itu menjadi boomerang bagi dirinya. Oportunis dan over confidence bisa merugikan tim. Meskipun menapaki usia emas, Cleo masih butuh arahan dari member lain untuk terus berkembang. Tapi tetap saja, tusukan dari sisi kiri akan selalu berbahaya.

[ATTACKING MIDFIELDER]. MELODY NURRAMDAHNI LAKSANI. Center. The Playmaker, Classic Number 10, Trequartista, Il Capitano, Skipper. Deretan julukan tadi sudah sangat jelas untuk menjelaskan peranan Melody untuk JKT48. Dia adalah pusat dari semua permainan yang dimainkan tim ini. Otak dari keseluruhan tim satu ini bertugas menggerakkan semua komponen di tim agar berjalan maksimal. Dia adalah wakil pelatih di lapangan yang memimpin rekan-rekan lain. Sebagai panutan member lain dia dituntut untuk selalu dalam keadaan prima. Posisi sentral yang dimainkannya selalu menjadi sorotan untuk menilai peforma tim. Dia diharuskan meng-cover lini depan dengan maksimal, mengalirkan bola merata ke semua lini, memulai serangan hingga mengatur tempo/ritme permainan. Di usia yang sangat matang ini, komando di lapangan dipegang penuh olehnya. Melody, The Leader!

[FORWARD]. NABILAH RATNA AYU AZALIA.The Ikon. Di awal 2000-an (beberapa hingga sekarang) kita mengenal beberapa tim dengan satu pemain yang sangat menonjol dan menjadi ikon klub. Mulai dari Maldini dengan AC Milan, Del Piero di Juventus, Gerrard bersama Liverpool, bahkan ada pleseten Raul Madrid yang ditujukan kepada Raul Gonzales untuk menghormati semua yang telah dia berikan ke Real Madrid. Bagaimana dengan JKT48? Tak bisa dipungkiri lagi, Nabilah adalah ikon tim ini. Ketika orang menyebut JKT48, pasti sosok nya lah yang pertama kali diingat. Tanpa dia, tim ini tak sempurna. Di usia yang sangat amat belia dia mengemban tugas berat ini dengan baik. Di lapangan, dia adalah penyelesai akhir. Dengan postur mungil dan agility yang luar biasa. Nabilah sangat aktif bergerak dan berbicara. Dia bertugas mengeksekusi semua umpan dan kesempatan yang dibuat member lain untuk di konversi menjadi goal.





Itu tadi, komposisi ideal starting eleven dari JKT48 jika dirubah menjadi tim sepakbola. Sebenarnya masih ada beberapa nama yang layak masuk starting eleven. Sebut saja Rena, gadis keturunan Jepang ini layak mengisi lini depan dengan kemampuan pemecah kebuntuan. Rena tipe Classic Striker. Namun dia harus rela menjadi pemain cadangan karena di posisi yang sama sudah ada Nabilah. Ada juga The Sleeping Head, Ayana. Si mata sayu yang latletis dan mempunyai pengalaman tinggal di luar negeri, namun itu saja tak cukup untuk masuk ke starting eleven. Lalu ada juga Dhike, Ochi dan Sonya yang cocok bermain di bebrapa posisi dengan kemampuan yang mumpuni. Mereka bisa menjadi penyeimbang lini tengah maupun menjadi penjelajah di semua lini. Namun lagi-lagi mereka harus puas memulai dari bench karena persaingan yang ketat. Masih ada juga member yang tersedia yang memiliki kemampuan rata-rata tapi kurang menonjol. Seperti Sendy, Frieska, Sonia, Mova, Rica, Gaby, Delima atau Diasta. Namun sulit bagi mereka untuk menembus tim utama.

Demikian tadi sedikit ulasan singkat mengenai JKT48 apabila dirubah menjadi tim sepakbola, termasuk di dalamnya peran dan peranan member di tim tersebut. Sekali lagi penilaian dilakukan dengan se-objektif mungkin yang didasarkan keadaan dan kenyataan di lapangan. Semua analisa dilakukan dengan sudut pandang penikmat sepakbola dan JKT48 itu sendiri. 


JKT48 dan Sepakbola. Dua hal yang bertolak belakang namun memiliki sebuah benang merah yang berhubungan.