Beberapa tahun lalu Persibo Bojonegoro secara heroik menjadi kampiun divisi utama lewat perjalanan penuh liku dan hambatan. Kata orang saat itu "juara yang tak diharapkan". Bagaimana tidak? Persibo saat itu tidak dijagokan dan banyak yang mengatakan jika Persibo bukan tim yang "disiapkan" untuk naik kasta oleh PSSI era itu. Terbukti memang, sejak 8 besar Persibo dikerjai habis-habisan namun berhasil lolos dari lubang jarum dan melaju hingga semifinal sebelum akhirnya menjadi juara. Banyak dukungan dan pujian datang setelah peristiwa yang tak akan pernah dilupakan oleh Boromania saat itu. Tak salah jika Persibo dijuluki sebagai "The Giant Killer".
3 tahun kemudian semua berubah. Persibo menjadi pesakitan. Cibiran, cercaan, hinaan datang silih bergati tak hanya dari insan sepakbola lokal tapi juga dunia. Penyebabnya tak lain & tidak bukan adalah kekalahan memalukan 8 - 0 saat bertanding di ajang AFC Cup melawan klub Hongkong Sunray Cave. Di laga tersebut wasit harus menghentikan pertandingan karena Persibo hanya menyisakan 6 pemain di lapangan. Penyebabnya adalah adalah pemain yang tak dapat melanjutkan pertandingan karena cedera dan kelelahan. Pelatih & Pemain Sunray Cave merasa terhina dengan kejadian tersebut. Di beberapa media dia mengatakan merasa terhina dengan kemenangan tersebut dan menuduh Persibo tidak punya semangat sportivitas. Kekalahan memalukan itu juga menjadi santapan media nasional bahkan internasional. Sungguh menyedihkan.
Sebelum pertandingan tersebut sebenarnya Persibo juga mengalami kekalahan telak di ajang AFC Cup 0 - 7 di Manahan Solo saat bertindak sebagai tuan rumah saat menjamu New Radiant klub Maladewa. Dan seminggu kemudian hampir menang saat menjamu Sunray Cave di tempat yang sama sebelum tendangan bebas pemain Sunray Cave di menit akhir memaksa hasil imbang 3 - 3. Setelah itu giliran Persibo harus melawat ke Hongkong untuk melawan Sunray Cave. Skuad yang dibawa ke Hongkong pun tidak ideal, karena hanya membawa 12 pemain (dan hanya membawa 1 penjaga gawang). Keberangkatan tim juga tak kalah amburadulnya. Skuad Persibo baru tiba di hari yang sama saat pertandingan akan dilaksanakan. Pagi tiba di bandara, malamnya langsung ke stadion untuk bertanding. Tanpa uji coba lapangan, tanpa istirahat yang cukup dan bisa dibilang tanpa persiapan yang memadai.
Lazimnya tim sepakbola di Indonesia, Persibo juga tak lepas dari yang namanya kesulitan dana. Bahkan pemain yang bermain untuk Persibo di ajang AFC Cup & IPL belum mempunyai ikatan kontrak dengan Persibo. Mereka hanya di beri uang saku seadanya. Bayangkan, pemain yang tiap hari berlatih dan bertanding belum mempunyai nasib yang jelas karena tak ada kontrak. Bahkan, beberapa jam sebelum pertandingan melawan New Radiant di AFC Cup pemain akan melakukan mogok tanding sebelum manajemen memberi kepastian, yang pada akhirnya mogok tersebut tidak jadi dilaksanakan karena manajemen berjanji akan memberi kepastian setelah pertandingan tersebut. Penandatangan kontrak pun baru dilakukan beberapa hari sebelum keberangkatan ke Hongkong. Itupun tidak semua pemain mau menandatangi kontrak, hanya pemain lokal asli Bojonegoro saja. Persibo pun berangkat ke Hongkong dengan seribu satu masalah.
Menyedihkan, sebagai warga Bojonegoro dan pecinta Persibo saya merasa miris, malu, sedih dengan kejadian di Hongkong tersebut. Peribahasa mengatakan makin tinggi pohon makin kencang angin yang menerpa. Namun saya, kami, dan semua pecinta Persibo tak menyangka & mengira angin yang menerpa akan sekencang ini. Tim yang dulu dipuji dan dielu-elukan kini dihina & dicerca habis-habisan. Sebagai bagian yang tak mungkin terpisahkan dengan Persibo kami takkan pernah meninggalkan tim ini di belakang. Kondisi ini membuat kami akan terus mengawasi dan mengawal tim ini untuk menjadi lebih baik kedepannya.
Persibo adalah cerminan, cerminan dari kondisi sepakbola Indonesia saat ini. Dan lagi dan lagi, Persibo harus menjadi tumbal dari masalah pelik persepakbolaan di Indonesia yang tak berkesudahan. Semoga ini menjadi peristiwa terburuk terakhir yang pernah kita alami dan lalui. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang pecinta sebuah klub sepakbola yang kadang mengumpati wasit dari atas tribun stadion. Tapi, atas nama Persibo Bojonegoro, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat pecinta sepakbola Indonesia.
Apa yang tak bisa membunuh kami, akan menjadikan kami lebih kuat.
Rabu, 10 April 2013
Rabu, 03 Oktober 2012
Ketika Idol Grup Menjadi Tim Sepakbola
24 gadis belia berseragam warna warni menyanyi dan menari
dengan lincah di atas panggung. Para penggemarnya menikmati penampilan
mereka dengan gaya yang tak kalah heboh nya. "Menyanyi.. Menari..
Sebebasnya" salah satu bait dari lagu yang dinyanyikan mereka dengan
energi yang luar biasa. Siapa mereka? Paduan suara sekolah? Bukan. Atau
Girlband baru yang numpang populer seperti girlband-girlband yang lain?
Bukan. Mereka lebih suka disebut Idol grup. Dan memang begitulah adanya,
mereka adalah idol grup. Mereka adalah JKT48!
JKT48, sebuah fenomena baru di industri musik Indonesia. Mudah dikenali karena mencolok dengan 24 anggota yang kadang tampil bersamaan dalam satu panggung. Lebih mirip tim sepakbola daripada idol grup, girlband atau apalah namanya itu. JKT48 dan Sepakbola itu bak dua sisi mata uang, bertolak belakang namun masih saling berkaitan. Ada beberapa hal yang mendukung teori itu. Pertama, jumlah anggota yang mencapai 24 orang. Jumlah yang kurang lebih sama dengan batas maksimal daftar pemain di sebuah klub sepakbola untuk mengarungi satu musim kompetisi liga atau turnamen. Kedua, asal muasal anggota. Anggota JKT48 diseleksi dari puluhan ribu pelamar yang kemudian diseleksi dan diambil yang terbaik. Yang terbaik itulah yang dilatih dan digembleng agar siap mengarungi persaingan dunia hiburan. Tak beda jauh dengan sistem perekrutan akademi sepakbola klub eropa. Ribuan pemuda belia mencoba peruntungan dengan mendaftar di akademi klub eropa (banyak juga yang ditawari langsung untuk bergabung) untuk dapat masuk menjadi bagian dari klub tersebut (dilatih dan digembleng oleh para pelatih profesional). Jika giat dan mendapat sedikit keberuntungan, mereka akan menjadi pemain hebat nantinya. Cerita selanjutnya kita sudah mengetahuinya dalam deretan nama Lionel Messi, Cesc Fabregas, David Beckham, Ryan Giggs dan ratusan pemain lain. Ketiga, mempunyai fans fanatik yang selalu setia mendukung mereka. Bahkan mereka punya chant mereka sendiri setiap JKT48 tampil. Kadang bahkan lebih heboh dan militan dari fans klub sepakbola yang sebenarnya.
Ya, JKT48 dan Sepakbola nampak begitu akrab. Berbeda namun masih terdapat benang merah. Dan, bagaimana jika kita membahas hubungan ini lebih lanjut. Mari kita ibaratkan JKT48 adalah sebuah klub sepakbola dan anggotanya adalah pemain. Kita akan mencoba mendefinisikan peran para anggota JKT48 dalam tim sekaligus posisi idealnya. Kita hanya akan mencari starting eleven atau skuad inti JKT48 yang terdiri dari 11 orang. Penilaian dilakukan dengan se-objektif mungkin. Berturut-turut mulai memilih dari kiper hingga striker. Disini kita akan menggunakan formasi 4-2-3-1, formasi yang sekarang populer di kalangan klub sepakbola dan sangat cocok untuk JKT48. JKT48 sendiri mempunyai 24 member, kita akan memilih siapa yang tepat untuk berada di starting eleven. Ok, mari kita mulai..
[CENTER BACK]. JESSICA VERANDA. Stylish, Dingin, Disiplin. 3 kata yang tepat untuk menggambarkan member yang satu ini. Walaupun Ve cenderung pasif (pendiam), dia dapat menghadapi semua nya dengan penuh ketenangan. Ditunjang dengan postur ideal sekaligus memasuki usia matang, satu tempat di lini pertahanan sudah selayaknya diberikan kepadanya. Ketenangannya akan sangat membantu tim ini untuk selalu tenang dan sabar dalam menghalau serangan dari musuh.
[CENTER BACK]. DEVI KINAL PUTRI. Atraktif. Sudah selayaknya jika satu tempat lain di center back diisi oleh Kinal. Duetnya dengan Ve akan menjadikan duet ideal di center back tim ini. Selain karena keduanya dekat di luar lapangan, kombinasi duet ini akan menciptakan pertahanan kokoh di lini pertahanan. Kelincahan dan kecerdasannya membuat dia bisa dengan pintar membaca permainan lawan. Aktif dan pekerja keras, mempunyai postur tak kalah ideal dan menuju usia emas. Jaminan kokoh lini belakang JKT48. Duet aktif-pasif atau lincah-kuat.
[RIGHT BACK]. CINDY GULLA. Mungil, Lincah, Gesit. Itulah hal yang pertama bisa kita lihat dari Cigul (sapaan akrabnya). Bek kanan sangat pas diisi oleh sosok baby face yang murah senyum ini. Kegesitan nya akan membantu tim dalam menyerang dan bertahan. Jangan tertipu dengan baby face nya, akselerasi dari sisi kanan akan siap mengobrak-abrik pertahanan lawan.
[LEFT BACK]. BEBY CHAESARA ANADILA. Smart, Ulet, Kreatif. Dia adalah pemain tipe serba bisa. Bisa mengisi posisi bek kanan/kiri atau berada di pos gelandang. Kemampuan nya yang cepat menyerap ilmu dan beradaptasi sungguh luar biasa. Di usia yang masih muda dia sudah bisa mencapai level ini. Banyak belajar dari senior adalah salah satu kunci nya. Posisi bek kiri sangat pas dengan segala kemampuan yang dimiliki nya.
[DEFENSIVE MIDFIELDER]. GHAIDA FARISYA. Strong! Tak ada kata lain lagi untuk menggambarkan member ini. Jika dulu Chelsea dan Real Madrid punya gelandang pengangkut air dalam diri Claude Makalele, maka JKT48 punya Ghaida. Dengan melihat sekilas saja kita sudah mengetahui kalau dia adalah pekerja keras. Dengan gaya tomboy dan cuek posisi gelandang bertahan sangat amat pas diisi olehnya. Dengan tubuh yang kekar ditambah gaya rambut sangar, daya juang dan stamina luar biasa lawan-lawan pasti akan gentar. Dia menjadi orang pertama yang bertugas memutus serangan lawan. Gelandang pengangkut air dengan daya tahan luar biasa.
[CENTRAL MIDFIELDER]. JESSICA VANIA. Serba bisa. Mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki member lain. Di JKT48,Jeje (sapaan akrabnya) mempunyai kemampuan memainkan banyak alat musik, sesuatu yang tidak dimiliki member lain Maka dari itu, peran box-to-box midfielder sangat pas dimainkan member satu ini. Kreator dari belakang layar yang aktif membantu serangan dan disiplin ketika diserang. Sayangnya, kadang Jeje terlihat tak bisa mengendalikan emosinya dan meledak-ledak. Overall, kemampuan nya bisa digunakan untuk meng-cover semua tempat di lini tengah.
[LEFT WINGER]. SHANIA JUNIANATHA. Determinasi Tinggi. Meskipun masih muda, dia mempunyai kemampuan untuk berada di garis depan penyerangan. Usia muda tapi memiliki visi seorang dewasa. Dia tahu harus berbuat apa di lapangan meskipun tanpa komando atau arahan dari member lain. Memiliki intelejensi tinggi dan kepercayaan diri yang mampu merubah ritme permainan. Shania siap mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan lawan.
[RIGHT WINGER]. CLEOPATRA. Confidence! Tipe winger classic dengan umpan dan eksekusi akurat meskipun tidak terlalu cepat. Dengan kepercayaan diri tinggi dia bisa membuat lawan di depan nya gentar. Meskipun tidak terlalu cepat tapi dia aktif bergerak mengcover wilayahnya dengan baik. Tapi kadang kepercayaan diri nya itu menjadi boomerang bagi dirinya. Oportunis dan over confidence bisa merugikan tim. Meskipun menapaki usia emas, Cleo masih butuh arahan dari member lain untuk terus berkembang. Tapi tetap saja, tusukan dari sisi kiri akan selalu berbahaya.
[ATTACKING MIDFIELDER]. MELODY NURRAMDAHNI LAKSANI. Center. The Playmaker, Classic Number 10, Trequartista, Il Capitano, Skipper. Deretan julukan tadi sudah sangat jelas untuk menjelaskan peranan Melody untuk JKT48. Dia adalah pusat dari semua permainan yang dimainkan tim ini. Otak dari keseluruhan tim satu ini bertugas menggerakkan semua komponen di tim agar berjalan maksimal. Dia adalah wakil pelatih di lapangan yang memimpin rekan-rekan lain. Sebagai panutan member lain dia dituntut untuk selalu dalam keadaan prima. Posisi sentral yang dimainkannya selalu menjadi sorotan untuk menilai peforma tim. Dia diharuskan meng-cover lini depan dengan maksimal, mengalirkan bola merata ke semua lini, memulai serangan hingga mengatur tempo/ritme permainan. Di usia yang sangat matang ini, komando di lapangan dipegang penuh olehnya. Melody, The Leader!
[FORWARD]. NABILAH RATNA AYU AZALIA.The Ikon. Di awal 2000-an (beberapa hingga sekarang) kita mengenal beberapa tim dengan satu pemain yang sangat menonjol dan menjadi ikon klub. Mulai dari Maldini dengan AC Milan, Del Piero di Juventus, Gerrard bersama Liverpool, bahkan ada pleseten Raul Madrid yang ditujukan kepada Raul Gonzales untuk menghormati semua yang telah dia berikan ke Real Madrid. Bagaimana dengan JKT48? Tak bisa dipungkiri lagi, Nabilah adalah ikon tim ini. Ketika orang menyebut JKT48, pasti sosok nya lah yang pertama kali diingat. Tanpa dia, tim ini tak sempurna. Di usia yang sangat amat belia dia mengemban tugas berat ini dengan baik. Di lapangan, dia adalah penyelesai akhir. Dengan postur mungil dan agility yang luar biasa. Nabilah sangat aktif bergerak dan berbicara. Dia bertugas mengeksekusi semua umpan dan kesempatan yang dibuat member lain untuk di konversi menjadi goal.
Itu tadi, komposisi ideal starting eleven dari JKT48 jika dirubah menjadi tim sepakbola. Sebenarnya masih ada beberapa nama yang layak masuk starting eleven. Sebut saja Rena, gadis keturunan Jepang ini layak mengisi lini depan dengan kemampuan pemecah kebuntuan. Rena tipe Classic Striker. Namun dia harus rela menjadi pemain cadangan karena di posisi yang sama sudah ada Nabilah. Ada juga The Sleeping Head, Ayana. Si mata sayu yang latletis dan mempunyai pengalaman tinggal di luar negeri, namun itu saja tak cukup untuk masuk ke starting eleven. Lalu ada juga Dhike, Ochi dan Sonya yang cocok bermain di bebrapa posisi dengan kemampuan yang mumpuni. Mereka bisa menjadi penyeimbang lini tengah maupun menjadi penjelajah di semua lini. Namun lagi-lagi mereka harus puas memulai dari bench karena persaingan yang ketat. Masih ada juga member yang tersedia yang memiliki kemampuan rata-rata tapi kurang menonjol. Seperti Sendy, Frieska, Sonia, Mova, Rica, Gaby, Delima atau Diasta. Namun sulit bagi mereka untuk menembus tim utama.
Demikian tadi sedikit ulasan singkat mengenai JKT48 apabila dirubah menjadi tim sepakbola, termasuk di dalamnya peran dan peranan member di tim tersebut. Sekali lagi penilaian dilakukan dengan se-objektif mungkin yang didasarkan keadaan dan kenyataan di lapangan. Semua analisa dilakukan dengan sudut pandang penikmat sepakbola dan JKT48 itu sendiri.
JKT48 dan Sepakbola. Dua hal yang bertolak belakang namun memiliki sebuah benang merah yang berhubungan.
JKT48, sebuah fenomena baru di industri musik Indonesia. Mudah dikenali karena mencolok dengan 24 anggota yang kadang tampil bersamaan dalam satu panggung. Lebih mirip tim sepakbola daripada idol grup, girlband atau apalah namanya itu. JKT48 dan Sepakbola itu bak dua sisi mata uang, bertolak belakang namun masih saling berkaitan. Ada beberapa hal yang mendukung teori itu. Pertama, jumlah anggota yang mencapai 24 orang. Jumlah yang kurang lebih sama dengan batas maksimal daftar pemain di sebuah klub sepakbola untuk mengarungi satu musim kompetisi liga atau turnamen. Kedua, asal muasal anggota. Anggota JKT48 diseleksi dari puluhan ribu pelamar yang kemudian diseleksi dan diambil yang terbaik. Yang terbaik itulah yang dilatih dan digembleng agar siap mengarungi persaingan dunia hiburan. Tak beda jauh dengan sistem perekrutan akademi sepakbola klub eropa. Ribuan pemuda belia mencoba peruntungan dengan mendaftar di akademi klub eropa (banyak juga yang ditawari langsung untuk bergabung) untuk dapat masuk menjadi bagian dari klub tersebut (dilatih dan digembleng oleh para pelatih profesional). Jika giat dan mendapat sedikit keberuntungan, mereka akan menjadi pemain hebat nantinya. Cerita selanjutnya kita sudah mengetahuinya dalam deretan nama Lionel Messi, Cesc Fabregas, David Beckham, Ryan Giggs dan ratusan pemain lain. Ketiga, mempunyai fans fanatik yang selalu setia mendukung mereka. Bahkan mereka punya chant mereka sendiri setiap JKT48 tampil. Kadang bahkan lebih heboh dan militan dari fans klub sepakbola yang sebenarnya.
Ya, JKT48 dan Sepakbola nampak begitu akrab. Berbeda namun masih terdapat benang merah. Dan, bagaimana jika kita membahas hubungan ini lebih lanjut. Mari kita ibaratkan JKT48 adalah sebuah klub sepakbola dan anggotanya adalah pemain. Kita akan mencoba mendefinisikan peran para anggota JKT48 dalam tim sekaligus posisi idealnya. Kita hanya akan mencari starting eleven atau skuad inti JKT48 yang terdiri dari 11 orang. Penilaian dilakukan dengan se-objektif mungkin. Berturut-turut mulai memilih dari kiper hingga striker. Disini kita akan menggunakan formasi 4-2-3-1, formasi yang sekarang populer di kalangan klub sepakbola dan sangat cocok untuk JKT48. JKT48 sendiri mempunyai 24 member, kita akan memilih siapa yang tepat untuk berada di starting eleven. Ok, mari kita mulai..
[GOAL KEEPER]. STELLA CORNELLIA. The Gold Voice. Salah satu member yg memasuki usia matang,
memiliki jiwa kharisma dan didukung dengan kelebihan suara emas
nya. Di JKT48, Stella adalah seorang panutan sekaligus mentor bagi member lain. Dengan sifat dewasa nya satu tempat di bawah mistar cocok untuk diisi oleh pemilik suara emas ini. Dia akan mampu mengkomando pertahanan tim dari bawah mistar.
[CENTER BACK]. JESSICA VERANDA. Stylish, Dingin, Disiplin. 3 kata yang tepat untuk menggambarkan member yang satu ini. Walaupun Ve cenderung pasif (pendiam), dia dapat menghadapi semua nya dengan penuh ketenangan. Ditunjang dengan postur ideal sekaligus memasuki usia matang, satu tempat di lini pertahanan sudah selayaknya diberikan kepadanya. Ketenangannya akan sangat membantu tim ini untuk selalu tenang dan sabar dalam menghalau serangan dari musuh.
[CENTER BACK]. DEVI KINAL PUTRI. Atraktif. Sudah selayaknya jika satu tempat lain di center back diisi oleh Kinal. Duetnya dengan Ve akan menjadikan duet ideal di center back tim ini. Selain karena keduanya dekat di luar lapangan, kombinasi duet ini akan menciptakan pertahanan kokoh di lini pertahanan. Kelincahan dan kecerdasannya membuat dia bisa dengan pintar membaca permainan lawan. Aktif dan pekerja keras, mempunyai postur tak kalah ideal dan menuju usia emas. Jaminan kokoh lini belakang JKT48. Duet aktif-pasif atau lincah-kuat.
[RIGHT BACK]. CINDY GULLA. Mungil, Lincah, Gesit. Itulah hal yang pertama bisa kita lihat dari Cigul (sapaan akrabnya). Bek kanan sangat pas diisi oleh sosok baby face yang murah senyum ini. Kegesitan nya akan membantu tim dalam menyerang dan bertahan. Jangan tertipu dengan baby face nya, akselerasi dari sisi kanan akan siap mengobrak-abrik pertahanan lawan.
[LEFT BACK]. BEBY CHAESARA ANADILA. Smart, Ulet, Kreatif. Dia adalah pemain tipe serba bisa. Bisa mengisi posisi bek kanan/kiri atau berada di pos gelandang. Kemampuan nya yang cepat menyerap ilmu dan beradaptasi sungguh luar biasa. Di usia yang masih muda dia sudah bisa mencapai level ini. Banyak belajar dari senior adalah salah satu kunci nya. Posisi bek kiri sangat pas dengan segala kemampuan yang dimiliki nya.
[DEFENSIVE MIDFIELDER]. GHAIDA FARISYA. Strong! Tak ada kata lain lagi untuk menggambarkan member ini. Jika dulu Chelsea dan Real Madrid punya gelandang pengangkut air dalam diri Claude Makalele, maka JKT48 punya Ghaida. Dengan melihat sekilas saja kita sudah mengetahui kalau dia adalah pekerja keras. Dengan gaya tomboy dan cuek posisi gelandang bertahan sangat amat pas diisi olehnya. Dengan tubuh yang kekar ditambah gaya rambut sangar, daya juang dan stamina luar biasa lawan-lawan pasti akan gentar. Dia menjadi orang pertama yang bertugas memutus serangan lawan. Gelandang pengangkut air dengan daya tahan luar biasa.
[CENTRAL MIDFIELDER]. JESSICA VANIA. Serba bisa. Mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki member lain. Di JKT48,Jeje (sapaan akrabnya) mempunyai kemampuan memainkan banyak alat musik, sesuatu yang tidak dimiliki member lain Maka dari itu, peran box-to-box midfielder sangat pas dimainkan member satu ini. Kreator dari belakang layar yang aktif membantu serangan dan disiplin ketika diserang. Sayangnya, kadang Jeje terlihat tak bisa mengendalikan emosinya dan meledak-ledak. Overall, kemampuan nya bisa digunakan untuk meng-cover semua tempat di lini tengah.
[LEFT WINGER]. SHANIA JUNIANATHA. Determinasi Tinggi. Meskipun masih muda, dia mempunyai kemampuan untuk berada di garis depan penyerangan. Usia muda tapi memiliki visi seorang dewasa. Dia tahu harus berbuat apa di lapangan meskipun tanpa komando atau arahan dari member lain. Memiliki intelejensi tinggi dan kepercayaan diri yang mampu merubah ritme permainan. Shania siap mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan lawan.
[RIGHT WINGER]. CLEOPATRA. Confidence! Tipe winger classic dengan umpan dan eksekusi akurat meskipun tidak terlalu cepat. Dengan kepercayaan diri tinggi dia bisa membuat lawan di depan nya gentar. Meskipun tidak terlalu cepat tapi dia aktif bergerak mengcover wilayahnya dengan baik. Tapi kadang kepercayaan diri nya itu menjadi boomerang bagi dirinya. Oportunis dan over confidence bisa merugikan tim. Meskipun menapaki usia emas, Cleo masih butuh arahan dari member lain untuk terus berkembang. Tapi tetap saja, tusukan dari sisi kiri akan selalu berbahaya.
[ATTACKING MIDFIELDER]. MELODY NURRAMDAHNI LAKSANI. Center. The Playmaker, Classic Number 10, Trequartista, Il Capitano, Skipper. Deretan julukan tadi sudah sangat jelas untuk menjelaskan peranan Melody untuk JKT48. Dia adalah pusat dari semua permainan yang dimainkan tim ini. Otak dari keseluruhan tim satu ini bertugas menggerakkan semua komponen di tim agar berjalan maksimal. Dia adalah wakil pelatih di lapangan yang memimpin rekan-rekan lain. Sebagai panutan member lain dia dituntut untuk selalu dalam keadaan prima. Posisi sentral yang dimainkannya selalu menjadi sorotan untuk menilai peforma tim. Dia diharuskan meng-cover lini depan dengan maksimal, mengalirkan bola merata ke semua lini, memulai serangan hingga mengatur tempo/ritme permainan. Di usia yang sangat matang ini, komando di lapangan dipegang penuh olehnya. Melody, The Leader!
[FORWARD]. NABILAH RATNA AYU AZALIA.The Ikon. Di awal 2000-an (beberapa hingga sekarang) kita mengenal beberapa tim dengan satu pemain yang sangat menonjol dan menjadi ikon klub. Mulai dari Maldini dengan AC Milan, Del Piero di Juventus, Gerrard bersama Liverpool, bahkan ada pleseten Raul Madrid yang ditujukan kepada Raul Gonzales untuk menghormati semua yang telah dia berikan ke Real Madrid. Bagaimana dengan JKT48? Tak bisa dipungkiri lagi, Nabilah adalah ikon tim ini. Ketika orang menyebut JKT48, pasti sosok nya lah yang pertama kali diingat. Tanpa dia, tim ini tak sempurna. Di usia yang sangat amat belia dia mengemban tugas berat ini dengan baik. Di lapangan, dia adalah penyelesai akhir. Dengan postur mungil dan agility yang luar biasa. Nabilah sangat aktif bergerak dan berbicara. Dia bertugas mengeksekusi semua umpan dan kesempatan yang dibuat member lain untuk di konversi menjadi goal.
Itu tadi, komposisi ideal starting eleven dari JKT48 jika dirubah menjadi tim sepakbola. Sebenarnya masih ada beberapa nama yang layak masuk starting eleven. Sebut saja Rena, gadis keturunan Jepang ini layak mengisi lini depan dengan kemampuan pemecah kebuntuan. Rena tipe Classic Striker. Namun dia harus rela menjadi pemain cadangan karena di posisi yang sama sudah ada Nabilah. Ada juga The Sleeping Head, Ayana. Si mata sayu yang latletis dan mempunyai pengalaman tinggal di luar negeri, namun itu saja tak cukup untuk masuk ke starting eleven. Lalu ada juga Dhike, Ochi dan Sonya yang cocok bermain di bebrapa posisi dengan kemampuan yang mumpuni. Mereka bisa menjadi penyeimbang lini tengah maupun menjadi penjelajah di semua lini. Namun lagi-lagi mereka harus puas memulai dari bench karena persaingan yang ketat. Masih ada juga member yang tersedia yang memiliki kemampuan rata-rata tapi kurang menonjol. Seperti Sendy, Frieska, Sonia, Mova, Rica, Gaby, Delima atau Diasta. Namun sulit bagi mereka untuk menembus tim utama.
Demikian tadi sedikit ulasan singkat mengenai JKT48 apabila dirubah menjadi tim sepakbola, termasuk di dalamnya peran dan peranan member di tim tersebut. Sekali lagi penilaian dilakukan dengan se-objektif mungkin yang didasarkan keadaan dan kenyataan di lapangan. Semua analisa dilakukan dengan sudut pandang penikmat sepakbola dan JKT48 itu sendiri.
JKT48 dan Sepakbola. Dua hal yang bertolak belakang namun memiliki sebuah benang merah yang berhubungan.
Kamis, 26 Juli 2012
Persibo: Smile, Cry & Fight Together
Peluit panjang dibunyikan, gol semata wayang Lexe Anderson di penghujung
babak kedua mengakhiri perlawanan tuan rumah, PSMS Medan. Persibo
Bojonegoro mengakhiri musim 2011/2012 dengan kemenangan dan memastikan
tempat di posisi 4 klasemen Indonesian Premier League. 3 hari sebelumnya
Laskar Angling Dharma secara mengejutkan mengalahkan Semen Padang di
final Piala Indonesia dan memastikan diri menjadi Juara lewat gol dari
Dian Irawan. Persibo lagi dan lagi membuktikan diri sebagai 'the Giant
Killer'. Tak diunggulkan, namun mampu membalikan semua prediksi dan
akhirnya menjadi juara. Akhir manis dari perjalanan berliku Persibo
sepanjang musim ini. Lalu, apa rahasia di balik kesusksesan Persibo
musim ini?
Paolo Camargo dipercaya untuk menangani Persibo musim ini. Bersama kompatriotnya Wanderley Junior, mereka bahu membahu memimpin tim ini. Di awal musim saat proses seleksi pemain, secara mengejutkan Camargo mencoret nama-nama kondang yang beberapa musim terakhir menjadi andalan Persibo. Sebut saja Ahmad Sumardi, Nur Hidayat, M. Hamzah, M. Irfan atau Iswandi Da'i. Keputusan yang ditentang oleh kalangan Boromania yang menganggap beberapa pemain tersebut masih layak memperkuat Persibo. Boromania pun semakin apatis dibuatnya. Rekrutan anyar Persibo yang jauh dari harapan. Nur Iskandar, Syahroni, Munadi, Aulia Tri, Edi Sibung, Fauzi Toldo, Aditya Harlan tentu bukan nama yang diharapkan Boromania. Hary Syahputra mungkin bisa dibilang pemain bintang menilik track record nya di timnas, namun dia sudah masuk usia gaek pesepakbola. Deretan pemain asing juga tak terlalu istimewa. Lexe Anderson di plot mengisi lini pertahanan. Ada pemain serba bisa asal Turkmenistan, Mekan Nasirov. Posisi playmaker dipercayakan kepada Gustavo Hernan Ortiz. Ujung tombak ada nama Jairon Feliciano. Salah satu terobosan Camargo yang patut diapresiasi adalah berani mempromosikan pemain-pemain muda asli binaan Persibo Bojonegoro. Wahyu Teguh, Bijail Chalwa, Didik Wahyu, Sigit Meiko kemudian disusul Angger mendapat kesempatan mencicipi kerasnya liga Indonesia. Semua pemain tersebut dipadukan dengan pemain-pemain lama macam Samsul Arif, Jajang Paliama, Novan Setya, Aang Suparman ataupun Aries Tuansyah.
Lini Per Lini
Camargo meninggalkan pakem 4-4-2 warisan Sartono Anwar yang beberapa tahun ke belakang menjadi andalan Persibo dan menggunakan formasi ofensif 3-4-3. Formasi yang cukup berani mengingat komposisi pemain Persibo yang bisa dibilang 'pas-pasan'. Penjaga gawang utama dipercayakan kepada Fauzi Toldo yang memiliki jam terbang tinggi jika dibandingkan 2 penjaga gawang lain. Trio bek diisi Lexe Anderson, Aang Suparman dan Hary Syahputra. Aries Tuansyah dan Sigit Meiko menjadi opsi kedua ketika trio bek tadi ada yang tidak bisa tampil. 5 bek dengan postur tinggi ini menjadi tembok yang sulit ditembus. Total sudah 9 clean sheet yang diciptakan kombinasi bek ini.
Lini tengah menjadi lini yang banyak menciptakan kombinasi. Di awal musim kombinasi Edi Sibung (sayak kanan), Novan Setya (sayap kiri), Mekan Nasirov (Gelandang Bertahan) dan Gustavo Ortiz (Playmaker) menjadi pilihan utama. Di perjalanan nya, Mekan Nasirov kemudian di plot sebagai sayap kiri menggantikan posisi Edi Sibung yang peforma nya menurun. Kemudian Jajang Paliama masuk mengisi pos yang ditinggalkan Mekan Nasirov. Kombinasi Mekan-Jajang-Ortiz-Novan menjadi pilihan utama Camargo hingga penghujung putaran pertama IPL. Kedatangan Dian Irawan di putaran kedua membuat pilihan lini tengah semakin banyak. Alhasil Jajang dan Dian Irawan silih berganti menempati posisi gelandang bertahan. Bahklan Jajang Paliama sendiri pernah di plot sebagai libero saat Persibo krisis bek. Aulia Tri Hartanto, Edi Sibung, Syahroni dan Munadi menjadi opsi kedua yang sering dimainkan sebagai pemain pengganti.Total 5 gol yang disumbangkan lini tengah ini.
Beralih ke lini depan, lini ini menjadi lini yang paling diandalkan. Di awal musim trio Samsul Arif - Jairon - Wahyu Teguh jadi pilihan pertama. Namun belum ada kontribusi signifikan dari trio ini. Lalu munculah sosok M. Nur Iskandar. Pada saat Wahyu Teguh absen (seleksi timnas U-21), Iskandar menjawab kepercayaan Camargo dan langsung mencetak hattrick. Dan kemudian trio Samsul Arif - Jairon - Iskandar menjadi pilihan utama Camargo di laga-laga berikutnya. Wahyu Teguh dan Bijahil Chalwa harus puas menjadi pemain pengganti. Gol demi gol lahir dari kaki Iskandar, Kepercayaan pelatih tidak di sia-siakan. Sementara itu Samsul Arif berperan menjadi feeder yang seringkali turun menjemput bola dari lini tengah. Samsul Arif juga menjadi destroyer yang memecah konsentrasi bek lawan dengan akselerasi nya. Dengan ban kapten di lengan nya Samsul menjadi panutan dan terlihat lebih dewasa. Jairon menjadi Target man di formasi 3-4-3 ini. Namun sayang, kontribusi gol nya sangat minim. Total hanya 2 gol yang dicetak Jairon sepanjang musim. Kalah jika dibandingkan dengan Iskandar (11), Samsul Arif (7) atau Wahyu Teguh (4). Sebagai pemain asing, Jairon justru menjadi handicap di tim ini. Posisi nya kemudian digantikan oleh Wahyu Teguh di penghujung musim dan terbukti ampuh. Tridente Samsul Arif - Wahyu Teguh - Iskandar dengan postur mini nya justru memberikan warna baru di lini depan Persibo. Ketiganya bergantian menjadi target man atau penyerang sayap. 3 pemain dengan kecepatan tinggi di lini depan. Lini yang paling produktif dengan torehan 24 gol.
This Is Bojonegoro
Hal yang harus diapresiasi adalah kepercayaan Camargo kepada pemain muda, khususnya yang berasal dari Bojonegoro. Wahyu Teguh menjadi idola baru Boromania. Kesempatan yang diberikan dimanfaatkan nya dengan permainan menawan. Jebolan Persibo U-21 ini mencetak 8 gol (IPL dan Piala Indonesia), Luar biasa! Pemain yang baru genap 20 tahun ini benar-benar menunjukkan taji nya. Tak heran jika dia dipanggil timnas junior. Lalu ada Sigit Meiko. Bek jangkung yang menjalani musim pertama nya sebagai pemain profesional. Beberapa kali dipanggil timnas. Pemusatan latihan timnas (senior dan junior) menempa mental nya dan menjadikan bek masa depan Persibo ini semakin matang. Ada lagi Didik Bagus, sayap lincah yang langsung mencetak gol di debut perdana nya membela Persibo musim ini. Bijahil Chalwa dan Happy Kurniawan pun juga mendapatkan pengalaman berharga di bawah asuhan Paolo Camargo. Itu semua pemain muda asli Bojonegoro!
Hal lain yang menjadikan musim ini lebih istimewa adalah banyaknya pemain Persibo yang dipanggil memperkuat timnas Indonesia di level junior dan senior. Samsul Arif, Novan Setya, Iskandar dan Jajang Paliama dipanggil memperkuat timnas senior. Sigit Meiko, Wahyu Teguh, Syahroni dan Bijahil Chalwa di level junior. Yang makin membanggakan lagi adalah sebagian besar pemain yang dipanggil timnas adalah putera asli Bojonegoro. Samsul Arif dan Novan Setya memasuki masa keemasan mereka, Wahyu Teguh dan Sigit Meiko mulai meretas karir dengan awal yang menakjubkan. Potensi lokal yang bisa menjadikan klub ini bersaing dengan klub-klub papan atas di Indonesia.
Talenta lokal yang bersinar, 5 besar klasemen liga dan trofi Piala Indonesia. Tahun yang harus dikenang. Bojonegoro Matoh!
Paolo Camargo dipercaya untuk menangani Persibo musim ini. Bersama kompatriotnya Wanderley Junior, mereka bahu membahu memimpin tim ini. Di awal musim saat proses seleksi pemain, secara mengejutkan Camargo mencoret nama-nama kondang yang beberapa musim terakhir menjadi andalan Persibo. Sebut saja Ahmad Sumardi, Nur Hidayat, M. Hamzah, M. Irfan atau Iswandi Da'i. Keputusan yang ditentang oleh kalangan Boromania yang menganggap beberapa pemain tersebut masih layak memperkuat Persibo. Boromania pun semakin apatis dibuatnya. Rekrutan anyar Persibo yang jauh dari harapan. Nur Iskandar, Syahroni, Munadi, Aulia Tri, Edi Sibung, Fauzi Toldo, Aditya Harlan tentu bukan nama yang diharapkan Boromania. Hary Syahputra mungkin bisa dibilang pemain bintang menilik track record nya di timnas, namun dia sudah masuk usia gaek pesepakbola. Deretan pemain asing juga tak terlalu istimewa. Lexe Anderson di plot mengisi lini pertahanan. Ada pemain serba bisa asal Turkmenistan, Mekan Nasirov. Posisi playmaker dipercayakan kepada Gustavo Hernan Ortiz. Ujung tombak ada nama Jairon Feliciano. Salah satu terobosan Camargo yang patut diapresiasi adalah berani mempromosikan pemain-pemain muda asli binaan Persibo Bojonegoro. Wahyu Teguh, Bijail Chalwa, Didik Wahyu, Sigit Meiko kemudian disusul Angger mendapat kesempatan mencicipi kerasnya liga Indonesia. Semua pemain tersebut dipadukan dengan pemain-pemain lama macam Samsul Arif, Jajang Paliama, Novan Setya, Aang Suparman ataupun Aries Tuansyah.
Lini Per Lini
Camargo meninggalkan pakem 4-4-2 warisan Sartono Anwar yang beberapa tahun ke belakang menjadi andalan Persibo dan menggunakan formasi ofensif 3-4-3. Formasi yang cukup berani mengingat komposisi pemain Persibo yang bisa dibilang 'pas-pasan'. Penjaga gawang utama dipercayakan kepada Fauzi Toldo yang memiliki jam terbang tinggi jika dibandingkan 2 penjaga gawang lain. Trio bek diisi Lexe Anderson, Aang Suparman dan Hary Syahputra. Aries Tuansyah dan Sigit Meiko menjadi opsi kedua ketika trio bek tadi ada yang tidak bisa tampil. 5 bek dengan postur tinggi ini menjadi tembok yang sulit ditembus. Total sudah 9 clean sheet yang diciptakan kombinasi bek ini.
Lini tengah menjadi lini yang banyak menciptakan kombinasi. Di awal musim kombinasi Edi Sibung (sayak kanan), Novan Setya (sayap kiri), Mekan Nasirov (Gelandang Bertahan) dan Gustavo Ortiz (Playmaker) menjadi pilihan utama. Di perjalanan nya, Mekan Nasirov kemudian di plot sebagai sayap kiri menggantikan posisi Edi Sibung yang peforma nya menurun. Kemudian Jajang Paliama masuk mengisi pos yang ditinggalkan Mekan Nasirov. Kombinasi Mekan-Jajang-Ortiz-Novan menjadi pilihan utama Camargo hingga penghujung putaran pertama IPL. Kedatangan Dian Irawan di putaran kedua membuat pilihan lini tengah semakin banyak. Alhasil Jajang dan Dian Irawan silih berganti menempati posisi gelandang bertahan. Bahklan Jajang Paliama sendiri pernah di plot sebagai libero saat Persibo krisis bek. Aulia Tri Hartanto, Edi Sibung, Syahroni dan Munadi menjadi opsi kedua yang sering dimainkan sebagai pemain pengganti.Total 5 gol yang disumbangkan lini tengah ini.
Beralih ke lini depan, lini ini menjadi lini yang paling diandalkan. Di awal musim trio Samsul Arif - Jairon - Wahyu Teguh jadi pilihan pertama. Namun belum ada kontribusi signifikan dari trio ini. Lalu munculah sosok M. Nur Iskandar. Pada saat Wahyu Teguh absen (seleksi timnas U-21), Iskandar menjawab kepercayaan Camargo dan langsung mencetak hattrick. Dan kemudian trio Samsul Arif - Jairon - Iskandar menjadi pilihan utama Camargo di laga-laga berikutnya. Wahyu Teguh dan Bijahil Chalwa harus puas menjadi pemain pengganti. Gol demi gol lahir dari kaki Iskandar, Kepercayaan pelatih tidak di sia-siakan. Sementara itu Samsul Arif berperan menjadi feeder yang seringkali turun menjemput bola dari lini tengah. Samsul Arif juga menjadi destroyer yang memecah konsentrasi bek lawan dengan akselerasi nya. Dengan ban kapten di lengan nya Samsul menjadi panutan dan terlihat lebih dewasa. Jairon menjadi Target man di formasi 3-4-3 ini. Namun sayang, kontribusi gol nya sangat minim. Total hanya 2 gol yang dicetak Jairon sepanjang musim. Kalah jika dibandingkan dengan Iskandar (11), Samsul Arif (7) atau Wahyu Teguh (4). Sebagai pemain asing, Jairon justru menjadi handicap di tim ini. Posisi nya kemudian digantikan oleh Wahyu Teguh di penghujung musim dan terbukti ampuh. Tridente Samsul Arif - Wahyu Teguh - Iskandar dengan postur mini nya justru memberikan warna baru di lini depan Persibo. Ketiganya bergantian menjadi target man atau penyerang sayap. 3 pemain dengan kecepatan tinggi di lini depan. Lini yang paling produktif dengan torehan 24 gol.
This Is Bojonegoro
Hal yang harus diapresiasi adalah kepercayaan Camargo kepada pemain muda, khususnya yang berasal dari Bojonegoro. Wahyu Teguh menjadi idola baru Boromania. Kesempatan yang diberikan dimanfaatkan nya dengan permainan menawan. Jebolan Persibo U-21 ini mencetak 8 gol (IPL dan Piala Indonesia), Luar biasa! Pemain yang baru genap 20 tahun ini benar-benar menunjukkan taji nya. Tak heran jika dia dipanggil timnas junior. Lalu ada Sigit Meiko. Bek jangkung yang menjalani musim pertama nya sebagai pemain profesional. Beberapa kali dipanggil timnas. Pemusatan latihan timnas (senior dan junior) menempa mental nya dan menjadikan bek masa depan Persibo ini semakin matang. Ada lagi Didik Bagus, sayap lincah yang langsung mencetak gol di debut perdana nya membela Persibo musim ini. Bijahil Chalwa dan Happy Kurniawan pun juga mendapatkan pengalaman berharga di bawah asuhan Paolo Camargo. Itu semua pemain muda asli Bojonegoro!
Hal lain yang menjadikan musim ini lebih istimewa adalah banyaknya pemain Persibo yang dipanggil memperkuat timnas Indonesia di level junior dan senior. Samsul Arif, Novan Setya, Iskandar dan Jajang Paliama dipanggil memperkuat timnas senior. Sigit Meiko, Wahyu Teguh, Syahroni dan Bijahil Chalwa di level junior. Yang makin membanggakan lagi adalah sebagian besar pemain yang dipanggil timnas adalah putera asli Bojonegoro. Samsul Arif dan Novan Setya memasuki masa keemasan mereka, Wahyu Teguh dan Sigit Meiko mulai meretas karir dengan awal yang menakjubkan. Potensi lokal yang bisa menjadikan klub ini bersaing dengan klub-klub papan atas di Indonesia.
Talenta lokal yang bersinar, 5 besar klasemen liga dan trofi Piala Indonesia. Tahun yang harus dikenang. Bojonegoro Matoh!
Langganan:
Postingan (Atom)
