Sabtu, 08 Januari 2011

LPI vs ISL


Akhir Tahun 2010 menjadi euforia terendiri bagi penikmat Sepakbola Nasional, namun euforia tersebut harus menjadi anti-klimaks setelah Garuda diakalhkan Malaysia. Namun bukannya dicaci pemain timnas justru dipuju-puji bak pahlawan. Setelah euforia AFF berakhir munculah sebuah isu hangat yaitu kehadiran liga tandingan yaitu LPI (Liga Primer Indonesia). LPI sendiri digagas oleh pengusaha kaya Arifin Panigoro, tujuan LPI sendiri sebenarnya cukup baik yaitu menciptakan atmosfer sepak bola yang lebih baik, karena selama ini sepak bola masih tidak jauh dengan kericuhan akibat kurangnya kualitas penylenggaraan yang memadai. Bedanya lagi club-club yang akan mengikuti kompetisi LPI tidak akan menggunakan dana APBD untuk membiayai hidup mereka, karena akan mendapat royalti dari LPI, ini berbanding terbalik dengan ISL yang selalu mengandalkan uang dari APBD sehingga tidak sedikit club yang berada di daerah kurang mampu akan mati ditengah jalan karena tidak mendapat suntikan dana dari pemda atau sponsor. Disini terlihat arogansi dan kediktatoran PSSI. Seharusnya mereka lebih dewasa dan memberikan peluang begulirnya LPI, karena tanpa adanya liga tandingan kualitas sepak bola kita tidak akn bisa diukur dan maju. PSSI tetaplah PSSI berhati keras dan semena-mena, mereka seperti bersabda dan sabda merekaharus dituruti walau akan berdampak kehancuran pada sepak bola kita. Yang dalam otak PSSI adalah memperkaya diri. Tentu kita ingat pada gelaran piala AFF lalu dimana PSSI menjaul tiket yang teramat sangat mahal, dan Nurdin Halid bersikukuh untuk tidak menurunkan harga ticket tersebut. Kendati harga ticket mahal namun tidak diimbangi dengan pelayanan yang memuaskan. Kericuhan terjadi saat pembelian ticket, ini cermin dari keserakahan PSSI yang hanya mau uang tapi tidak mau keluar uang untuk sewa keamanan. Sekarang mana uang hasil penjualan ticket tersebut?semoga KPK meluangkan waktunya untuk memeriksanya.
Terlepas dari itu semua Pemerintah melalui menpora Andi Malarangeng menyatakan telah merestui akan hadirnya LPI, sehinggan apapun yang terjadi gelaran LPI akan tetap berlangsung sesai dengan rencana. Kita tunggu saja bagaiman wjud LPI semoga bisa membawa atmosfer sepak bola yang lebih baik.

Ya, semoga saja mereka dapat berjalan berdampingan demi kemajuan Sepakbola Nasional.

Senin, 12 Juli 2010

Bonek vs Aremania


Dulu saya pernah buat Artikel tentang perseturuan Viking vs The Jack, sekarang saya kembali lagi dengan Bonek vs Aremania, selamat membaca

Hari ini persepakbolaan nasional sudah mulai menapak maju, dimana setiap klub sepakbola yang ada dibawah naungan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dibina untuk lebih profesional. Bentuk profesionalitas itu oleh PSSI dituangkan dalam format baru Liga Indonesia, dimana sejak tahun 1994 kompetisi yang sebelumnya terbagi dua disatukan dalam konsep Liga Indonesa dengan kasta tertinggi terletak pada Divisi Utama. Setelah berganti-ganti konsep dan format kompetisi, akhirnya pada tahun 2008 Divisi Utama Liga Indonesia berubah menjadi Indonesian Super League. Proses pembinaan kompetisi beserta klub-klub yang ada didalamnya diharapkan mampu membuat iklim sepakbola di Indonesia menjadi lebih modern dan mampu menelurkan bibit-bibit baru pemain asli Indonesia yang lebih berkualitas.



Kemajuan persepakbolaan nasional tentu harus diikuti oleh komunitas suporter yang menjadi basis pendukung sebuah klub sepakbola. Karena adalah sebuah omong kosong apabila sebuah klub sepakbola itu mampu bertahan tanpa dukungan suporter yang ada dibelakangnya. Tetapi sayangnya sudah menjadi rahasia umum bahwasanya persepakbolaan Indonesia dikenal akan kerusuhan dan permainan yang menjurus kasar. Kerusuhan demi kerusuhan, entah itu akibat ketidakdewasaan suporter atau provokasi ofisial pertandingan kepada suporter menjadi cerita lama dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Konflik Jakarta-Bandung, Semarang-Jepara, Jogja-Solo, dan Malang-Surabaya menjadi cerita pasti mengenai aroma panas dalam konflik suporter di Indonesia.Belum dewasanya suporter di Indonesia tentu menjadi penghambat bagi pengembangan profesionalitas klub-klub di Indonesia. Aksi anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter menjadi salah satu faktor lambatnya pengembangan profesionalitas klub Indonesia. Belajar dari kasus rasisme Aremania beberapa saat yang lalu tentu menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh elemen suporter yang ada. Kerugian sebesar hampir 1 miliar rupiah bagi Arema tentu menjadi sebuah permasalahan tersendiri. Arema yang merupakan klub profesional tanpa dukungan dana APBD tentu kesulitan membayar gaji pemain dan lainnya. Padahal skala permasalahan baru sekitar denda dan hukuman, belum pada level anarkisme tingkat tinggi seperti perusakan stadion dan beberapa fasilitas, kerusuhan antar-suporter, hingga aksi-aksi kejahatan yang melibatkan komunitas suporter.

Salah satu pertarungan suporter yang paling sering disorot oleh media massa adalah rivalitas Aremania dan Bonek. Dua elemen suporter dari Arema Indonesia dan Persebaya Surabaya ini memiliki tensi rivalitas yang sangat tinggi, dimana perseteruan antar kedua elemen suporter ini tak jarang berakhir dengan bentrokan, kerusuhan, kerusakan material, hingga jatuhnya korban jiwa. Ekspresi saling benci keduanya juga tertumpah ketika mendukung kesebelasan masing-masing, walaupun yang dihadapi adalah tim sepakbola selain Arema Indonesia atau Persebaya Surabaya.

Konflik Aremania melawan Bonek sudah menjadi cerita lama dalam diskusi antar-suporter di Indonesia. Pertarungan yang sudah mendarah-daging dalam kedua elemen suporter tersebut menjadi bumbu pedas dalam forum antar-suporter. Walaupun belum ada yang pernah memfilmkannya layaknya film Romeo-Juliet, tetapi aroma panas selalu terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Malang dan Surabaya. Tidak jarang ditemui di rumah seorang Aremania segala atribut Bonek menjadi kain lap, sementara di Surabaya segala atribut Aremania menjadi keset.

Aroma panas kedua elemen ini tentu menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut, karena sifat persaingannya yang begitu kental dan sudah mendarah-daging. Belum lagi pembentukan iklim sepakbola Indonesia ke arah modern tentu harus mewaspadai satu hal yang kini masih menjadi kontroversi: industri sepakbola. Modernisasi sepakbola secara tidak langsung membawa dunia sepakbola ke arah industri, dimana pada akhirnya kapital juga ikut bermain dalam menentukan suasana dan atmosfir sebuah pertandingan. Bukan tidak mungkin beberapa peristiwa yang berkaitan dengan sepakbola Indonesia hari ini berkaitan erat dengan suasana pasar ekonomi.

Selain dari perspektif industri sepakbola, tentu konflik-konflik yang timbul juga tidak luput dari permasalah sosial dan budaya dalam sebuah masyarakat. Masalah hegemoni dan pengakuan akan ‘the one and the best’ juga menjadi salah satu permasalah konflik suporter Indonesia. Persoalan chauvinisme dan fanatisme dalam sebuah masyarkat juga tidak dapat dihilangkan sebagai faktor-faktor pemicu konflik. Belum lagi soal dendam yang berasal dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Begitu banyak permasalahan yang timbul dalam masyarakat sehingga terbawa dalam kancah sepakbola membuat stadion masih belum menjadi tempat yang nyaman dalam menikmati pertandingan sepakbola.

Dengan mempelajari proses historis perseteruan kedua kelompok suporter ini diharapkan adanya pembelajaran serta solusi agar konflik-konflik yang terbangun menjadi sportif dan tidak anarkis. Pengkajian akan sebuah konflik dengan memandang dari perspektif sosiologi –dimana masyarakat dan kondisi kultural akan menjadi objek yang dikaji– diharapkan akan timbul sebuah mediasi entah itu berupa negoisasi atau yang lainnya. Dengan begitu posisi suporter sebagai sebuah pendukung klub akan terjadi hubungan timbal balik dengan klub yang didukung. Selain itu diharapkan pula perdamaian antar-suporter sepakbola yang ada di Indonesia dapat terjadi. 

Rabu, 17 Desember 2008

Loyalitas Tanpa Batas

YO AYO..... AYO INDONESIA.....

KUINGIN..... KITA HARUS MENANG.....



Walaupun akhirnya Indonesia tidak menang atas Thailand tapi Semangat suporter Indonesia patut diacungi 1000 jempol.Mereka tidak hentinya bernyayi & menari untuk mendukung Firman Utina cs.Para suporter dari berbagai klub di tanah air itu berhasil memerahkan Stadion Gelora Bung Karno walaupun tak sepadat saat Piala Asia lalu.Mereka datang dari segala penjuru Indonesia ,menanggalkan atribut klub dan berganti menjadi atribut Timnas.Sungguh sangat luar biasa melihat antusiasme publik sepakbola indonesia dalam mendukung timnas indonesia.Mereka rela wajah mereka dicat warna khas Timnas Indonesia merah putih atau memakai atribut yang aneh-aneh mulai dari kaos hingga topi , semangat nasionalisme sangat terlihat jelas di wajah para pendukung Timnas tersebut.



Bandingin aja dengan negara ASEAN lain mana ada suporter Timnas sebanyak yang kita miliki sekarang ditambah lagi dengan antusiasme saat berada dalam stadion wuuuhhh... ngeri!!!.Ngga percaya coba lihat video di you tube tentang suporter Indonesia saat melawan Korea selatan di Piala Asia , walaupun pada saat itu Indonesia kalah tetapi para suporter Indonesia membludak hampir setiap jengkal bangku penonton terisi.



So,ayo dong Timnas tunjukkan kehebatanmu sekarang , berikan hadiah manis buat para suporter Indonesia yang telah susah payah mendukungmu.Dan buat PSSI jangan goblok-goblok donk!!! milih pelatih jangan asal biar timnas kita bisa Terbang di Angkasa seperti sang Garuda.

INDONESIA...!!! INDONESIA...!!! INDONESIA...!!!